Kisah Hirka, Sepatu Ceker Ayam yang Mendunia
Selama
ini, ceker ayam identik dengan makanan khas rumahan atau kudapan sederhana.
Tidak sedikit pula yang menganggapnya sekadar limbah dapur yang tidak bernilai
ekonomi. Namun, di tangan seorang pria asal Bandung, Jawa Barat, pandangan itu
berubah total. Nurman Farieka berhasil menjadikan kulit ceker ayam sebagai
bahan baku sepatu bernilai ekspor melalui merek Hirka, sebuah inovasi yang kini
menarik perhatian dunia.
Sumber foto: ASTRA
Sebelum
menemukan ide tersebut, perjalanan Nurman di dunia wirausaha tidak mudah. Ia
memulai bisnisnya dari nol, bahkan dengan menjual dompet pribadinya kepada
teman untuk dijadikan modal awal. Dari uang itu, Nurman berjualan gelang dan
kalung. Sayangnya, usaha kecil itu tidak berkembang seperti yang diharapkan.
Tidak
menyerah, Nurman mencoba peruntungan di beberapa bidang lain. Dalam kurun waktu
setahun, ia telah menekuni empat jenis usaha berbeda, tetapi semuanya berakhir
sama, rugi besar hingga ratusan juta rupiah. Meski demikian, kegagalan demi
kegagalan itu justru menempanya menjadi pribadi yang tangguh. Ia meyakini,
selama masih mau berusaha, akan selalu ada peluang untuk bangkit.
Dengan
semangat itu, Nurman mencari arah baru. Ia mulai berpikir lebih dalam tentang hal
yang bisa ia hasilkan dengan sumber daya yang ada di sekitarnya. Pencariannya
ini kemudian membawanya pada sebuah ide yang tidak disangka-sangka, yang muncul
dari sebuah catatan lama milik ayahnya.
Terinspirasi dari Jurnal Kuliah Sang Ayah
Awal
mula lahirnya sepatu kulit ceker ayam bermula ketika Nurman menemukan karya
ilmiah peninggalan ayahnya. Ayah Nurman pernah menempuh pendidikan di
Politeknik Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta dan menulis penelitian tentang
berbagai jenis kulit, termasuk kulit ceker ayam. Karya ilmiah yang ditulis
tahun 1995 itu mengulas potensi kulit ceker ayam sebagai bahan alternatif
pengganti kulit reptil.
Temuan
itu menjadi titik balik bagi Nurman. Ia sadar, bahan tersebut sangat mudah
didapat di pasaran dan bahkan sering dibuang begitu saja. Padahal, dari sisi
tekstur, kulit ceker ayam memiliki pola alami yang mirip dengan kulit ular dan
buaya, dua bahan yang umum dipakai untuk membuat sepatu dan tas premium. Selain
unik, pemanfaatan limbah ceker ayam juga berpotensi membantu menjaga
kelestarian satwa liar yang kerap diburu demi kulitnya.
Berbekal
inspirasi itu, Nurman memutuskan untuk mengembangkan merek sepatunya sendiri,
yaitu Hirka. Kata ‘hirka’ berasal dari bahasa Turki yang berarti ‘dicintai’,
sebuah doa agar produknya kelak dicintai banyak orang. Awalnya, Nurman
memproduksi sepatu kanvas dengan nama tersebut. Namun, banyak merek lain yang
menjadi pesaing, yang menjual produknya seharga Rp60.000-Rp80.000. Hal ini
membuat Hirka sulit bersaing.
Alih-alih
menyerah, Nurman justru beralih fokus. Ia mulai melakukan riset mendalam
tentang cara mengolah kulit ceker ayam menjadi bahan yang layak pakai. Tahun
2015 menjadi titik awal riset panjangnya. Nurman mempelajari berbagai teknik
pengolahan, dari tahap pembersihan, pengawetan, hingga penyamakan kulit.
Tantangannya tidak kecil karena kulit ceker ayam tergolong rapuh dan mudah
sobek, sehingga sulit dijadikan bahan sepatu.
Namun,
Nurman tidak berhenti di tengah jalan. Ia percaya kualitas bahan adalah kunci
utama. Ia terus bereksperimen untuk membuat kulit ceker ayam menjadi lebih kuat
tanpa menghilangkan motif alami yang khas. Setelah berbulan-bulan melakukan
percobaan, ia akhirnya menemukan formula tepat agar kulit ceker ayam bisa
diolah menjadi bahan sepatu yang kokoh, lentur, dan tahan lama.
Keberhasilan
ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Hirka. Nurman kemudian melanjutkan
risetnya ke tahap desain produk. Ia membuat berbagai prototipe sepatu, dan
meski sempat berkali-kali gagal, akhirnya ia berhasil menciptakan sepatu kulit
ceker ayam yang berkualitas tinggi serta memiliki tampilan mewah.
Hirka Menembus Pasar Dunia
Setelah
dua tahun riset dan uji coba, pada tahun 2017 Nurman akhirnya berani
memperkenalkan produk sepatu kulit ceker ayamnya ke publik. Ia memasarkan
produk tersebut lewat berbagai pameran, termasuk INACRAFT, ajang kerajinan
tangan terbesar di Indonesia. Dari sana, sepatu Hirka mulai dikenal luas.
Masyarakat
menilai Hirka bukan hanya unik, tetapi juga berkelas. Teksturnya yang khas dan
tampilannya yang elegan membuat sepatu ini digemari oleh kalangan muda hingga
profesional. Lebih dari itu, banyak yang mengapresiasi ide ramah lingkungannya
karena mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai tinggi. Sepatu Hirka juga
dianggap berkontribusi dalam upaya pelestarian reptil, sebab keberadaannya
mengurangi permintaan terhadap kulit ular dan buaya.
Produksi
Hirka pun meningkat pesat. Dalam sebulan, Nurman mampu memproduksi hingga 200
pasang sepatu, dengan harga jual mulai dari Rp400 ribu hingga Rp7 juta per
pasang, tergantung pada model dan tingkat kerumitan pembuatannya. Kualitas
tinggi dan desain unik membuat permintaan datang tidak hanya dari dalam negeri,
tetapi juga dari luar negeri. Kini, Hirka telah menembus pasar Malaysia,
Singapura, Hong Kong, Brasil, Prancis, Inggris, hingga Turki.
Untuk
memperkuat fondasi bisnisnya, Nurman mendaftarkan hak paten atas inovasi sepatu
berbahan kulit ceker ayam tersebut. Usahanya mendapat pengakuan besar ketika ia
meraih penghargaan bergengsi SATU Indonesia Award 2019, sebuah penghargaan yang
diberikan kepada anak muda inspiratif yang memberi dampak positif bagi
masyarakat dan lingkungan.
Kini,
merek Hirka terus berkembang. Nurman telah meluncurkan beberapa varian model,
antara lain Jokka, Tafiaro, Renjana, Balawan, Ekajati, dan Astakona. Setiap
model membawa karakter berbeda tetapi tetap mempertahankan ciri khas kulit
ceker ayam yang eksotis.
Meski
telah menembus pasar internasional, Nurman tak berhenti berinovasi. Ia terus
menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di dalam negeri untuk memperkuat
rantai pasok bahan baku, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas
lapangan kerja. Baginya, Hirka bukan sekadar merek dagang, melainkan simbol
perubahan cara pandang terhadap limbah dan bukti bahwa kreativitas bisa lahir
dari hal-hal sederhana.
Nurman
berharap, kisah Hirka dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia
untuk tidak takut mencoba dan berinovasi. Di balik setiap kegagalan, selalu ada
pelajaran berharga yang bisa mengantar pada kesuksesan. Siapa sangka, dari
sepotong ceker ayam yang dulu dianggap tak berguna, kini lahir sepatu yang
melangkah jauh hingga ke mancanegara.
Comments
Post a Comment